Penjual Koran Di Stasiun Menyadarkan Saya Tentang Rejeki Tuhan

Siang itu saya datang ke stasiun untuk menjemput saudara saya yang pulang menggunakan kereta, dan entah kenapa saya enggan masuk ke tempat parkir dan lebih memilih duduk dan menunggu di sebuah masjid yang ada di sekitar stasiun. Kebetulan masjid itu satu jalan dengan jalur keluar kendaraan dari stasiun.

Cuaca siang itu panas dan bising dengan suara kendaraan dan kereta yang lewat, rasanya membosankan sekali jika harus menunggu lama. Untungnya jadwal kereta saat ini sudah tepat waktu dengan pelayanan yang terbilang sangat baik, terima kasih untuk pihak KAI yang terus berbenah.

Saya beranjak dari tempat duduk dan jalan-jalan kecil sembari sesekali mengintip ke pintu stasiun, berharap saudara saya cepat datang dan kami segera pergi karena saya sudah kepanasan sejak tadi.

Namun entah kenapa Tuhan memperlihatkan saya kepada seorang nenek-nenek tua yang berdiri di pinggir jalan, tepat setelah pintu keluar mobil di stasiun. Nenek itu menjual koran, stok yang dibawanya tidak seberapa banyak, mungkin hanya beberapa puluh saja.

ilustrasi via indofotografi.com

Saya perhatikan dengan seksama, dan tak ada satupun yang membeli koran itu, mungkin mereka sudah terlalu bosan dengan berbagai teknologi yang ada sehingga bisa mengakses berita dengan lebih baik ketimbang sebuah koran yang bisa dibilang sudah usang dan ketinggalan jaman.

Dalam hati saya bertanya, apakah nenek tua itu bisa mendapatkan rejeki yang cukup dari penjualan koran? Apakah hasil penjualan koran tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari? Apakah nenek itu tidak punya pekerjaan lain yang lebih baik dan menghasilkan uang lebih banyak? Dan berbagai pertanyaan lain yang muncul di kepala saya yang kepo ini.

Sayang sekali saya tidak berani bertanya kepada nenek itu karena saya takut mengganggunya jualan.

Namun dari pemandangan itu, saya tersadar bahwa perjuangan nenek tersebut mungkin terlihat sia-sia bagi sebagian orang karena koran sudah tidak terlalu diminati saat ini. Meski begitu, saya melupakan bahwa Tuhan bisa saja memberikan rejekinya dari berbagai jalan yang tidak diduga sama sekali.

Mungkin saja ada orang yang membutuhkan koran untuk membungkus barangnya dan membeli semuanya, mungkin saja ada orang yang baterai ponselnya mati dan membeli koran utuk dibaca agar tidak bosan, mungkin saja ada orang baik yang kasihan dan membeli koran si nenek tersebut, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya yang terbatas untuk dipikirkan oleh manusia, karena Tuhan punya cara indah-Nya sendiri.

Saat ini saya sedang mengalami masalah dalam usaha saya, dan beberapa hari ini rasanya saya ingin sekali mengeluhkannya. Namun melihat perjuangan nenek penjual koran itu, saya malah jadi malu untuk mengeluh karena mau tidak mau saya mendapatkan nasib yang lebih baik saat ini.

Rejeki Tuhan sudah ditentukan untuk setiap hamba-Nya, namun entah darimana datangnya tidak ada yang tahu sama sekali. Tugas kita hanya untuk berusaha seperti nenek penjual koran itu, berdo'a untuk kemurahan Tuhan, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Wirausahakan Updated at: 9:58 PM

0 komentar:

Post a Comment