Dilema Seorang Penjual Kerupuk yang Tidak Kamu Ketahui

Selama menjalankan usaha warung kelontong, saya berkenalan dengan banyak sales kerupuk yang sering menitipkan dagangannya di tempat saya. Yah, para penjual kerupuk itu menggunakan sistem bisnis titip-jual atau yang lebih dikenal dengan sistem konsinyasi, mereka untung dapat jaringan bisnis dan saya juga untung bisa dapat dagangan tanpa keluar modal terlebih dahulu.
Saya kan orangnya banyak tanya dan sering kepo, kadang kalau ada penjual kerupuk yang mampir akan saya ajak nongkrong dulu sembari ngopi-ngopi di warung (sekalian jualan kopi xixixi). Nah kalau lagi nongkrong itu, kadang saya curhat sama penjual tentang masalah usaha saya, begitu pula dengan para penjual kerupuk yang juga kadang sering curhat kepada saya tentang masalah usahanya itu.

seorang polisi sedang membantu penjual kerupuk menyeberangi pembatas jalan, sumber gambar : okey-banget.blogspot.com

Mereka para penjual kerupuk sebenarnya adalah bagian dari jaringan produsen kerupuk juga, jadi mereka tidak memproduksi kerupuknya sendiri, modal mereka hanya sepeda motor dan kontrak kerja sama dengan produsen kerupuk. Katanya ada yang bisa membawa kerupuknya dulu dan membayar nanti kalau sudah laku, namun ada pula yang tidak boleh membawanya dulu dan harus bayar langsung, itu juga merupakan salah satu masalah yang mereka hadapi apalagi kalau sedang sepi jualannya dan tidak punya uang.

Setelah mendapat kerupuk, mereka harus membungkusnya dengan baik dan mulai berkeliling menitipkan jualannya itu ke warung-warung yang mereka temui. Mereka menitipkan dagangan dengan modal kepercayaan pada pemilik warung, namun tak jarang mereka mendapati pemilik warung yang menyebalkan. Kerupuknya habis namun tidak mau membayar dengan berbagai alasan klasik, salah satunya dengan alasan tak ada uang karena sudah diapakai untuk belanja di pasar.

Selain masalah dengan pemilik warung dan produsen kerupuk, nyatanya ada masalah lain dari kerupuknya sendiri. Meski dibungkus rapat, namun kerupuk biasanya hanya bertahan hingga 1 minggu saja sebelum akhirnya lembek dan tidak gurih lagi. Mereka dihadapkan dengan pilihan yang sulit jika menghadapi masalah ini, kalau dikembalikan ke produsen kadang ada yang tidak mau menerimanya, jika dimakan sendiri takut keracunan karena sudah kadaluwarsa, jadi tak jarang mereka sengaja membuangnya di jalan karena memang sudah tidak berguna lagi.

Kalau masalah penjualan, biasanya mereka lebih suka di musim hujan karena katanya orang-orang suka ngemil dan kerupuknya cepat habis, namun kalau musim panas atau musim puasa, maka biasanya mereka tidak berharap terlalu banyak karena bisa saja 1 bulan hanya menjual 30% barang dagangannya itu. Bukannya untung malah rugi banyak, apalagi kalau yang harus membelinya terlebih dahulu, yah itu resiko jualan mereka.

Itulah dilema yang dialami oleh beberapa penjual kerupuk, bahkan dari pengalaman itu saya mendapati ada sekitar 5 orang sales kerupuk yang akhirnya berhenti karena mengalami kerugian terus menerus akibat kerupuknya tidak laku. Namun masih ada juga pedagang yang bertahan, mereka dengan bangga mengatakan kalau itu adalah pekerjaan yang telah lama mereka jalani, mau pahit atau manis itu sudah jadi resiko yang harus mereka hadapi, saya salut sama jawab mereka itu!

Wirausahakan Updated at: 11:12 PM

0 komentar:

Post a Comment